StartCemerlang

| Berita Cemerlang Terbaru Hari Ini

Kamar Tidur Penuh Kotoran Hewan, Hobi Pria Ini Malah Bantu Temukan Dua Spesies Jamur Baru

0 0
Read Time:2 Minute, 15 Second

Edinburgh, Skotlandia – Kisah penemu jamur dari kotoran hewan menjadi perhatian setelah Alfred Drummond-Herdman menjalankan hobi yang terdengar tidak biasa. Calon pengacara berusia 27 tahun tersebut memenuhi sebagian kamar tidurnya dengan terrarium berisi kotoran berbagai hewan untuk mengamati jamur yang tumbuh di atasnya.

Ketertarikan Alfred bermula ketika pandemi COVID-19. Saat berjalan di Ochil Hills, Skotlandia, ia memperhatikan kotoran sapi yang ditumbuhi jamur.

Alih-alih sekadar melewatinya, ia mulai penasaran dengan dunia organisme kecil yang hidup pada material tersebut.

Rasa penasaran itu berkembang menjadi kegiatan penelitian mandiri dengan kamera makro, mikroskop, hingga teknik time-lapse.

Penemu Jamur dari Kotoran Hewan Bikin Laboratorium di Kamar

Alfred kemudian membawa berbagai sampel kotoran hewan ke rumah.

Kotoran sapi, kelinci hingga grouse ditempatkan dalam wadah khusus sehingga ia dapat mengamati organisme yang muncul dari material tersebut.

Kamar tidurnya pun berubah menjadi semacam laboratorium mikrobiologi sederhana.

Ia mendokumentasikan perkembangan jamur menggunakan fotografi makro dan mikroskop. Beberapa organisme terlihat sangat kecil sehingga detailnya sulit dilihat dengan mata telanjang.

Video Jamur Ditonton Jutaan Kali

Hasil pengamatan Alfred ternyata bukan hanya menarik bagi peneliti.

Rekaman time-lapse memperlihatkan proses pertumbuhan jamur dengan detail yang jarang dilihat masyarakat. Beberapa konten yang ia hasilkan kemudian mendapatkan jutaan penayangan di internet.

Dari material yang dianggap menjijikkan, kamera justru menangkap bentuk organisme yang kompleks dan menarik.

Konten tersebut sekaligus memperkenalkan dunia coprophilous fungi, kelompok jamur yang beradaptasi untuk hidup pada kotoran hewan.

Dua Spesies Baru Berhasil Diidentifikasi

Aktivitas Alfred akhirnya menghasilkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada konten viral.

Pengamatannya telah membantu proses identifikasi dan deskripsi dua spesies jamur yang sebelumnya belum dikenal sains.

Temuan itu memperlihatkan bahwa keanekaragaman hayati tidak selalu harus dicari di hutan terpencil atau dasar laut.

Organisme yang belum terdokumentasi bahkan dapat ditemukan pada material yang biasa terlihat di padang rumput.

Siang Belajar Hukum, Malam Mengamati Jamur

Hal menarik lainnya adalah Alfred bukan peneliti jamur profesional.

Ia merupakan trainee lawyer atau calon pengacara. Penelitian jamur dilakukan sebagai minat pribadi di luar aktivitas profesionalnya.

Namun, ia menggunakan metode yang cukup serius.

Fotografi makro membantu mendokumentasikan bentuk luar jamur, sementara mikroskop digunakan untuk mengamati struktur yang jauh lebih kecil.

Time-lapse kemudian merekam perkembangan organisme dalam jangka waktu tertentu.

Kotoran Hewan Ternyata Menyimpan Dunia Tersembunyi

Bagi kebanyakan orang, kotoran hewan mungkin merupakan sesuatu yang ingin segera dihindari.

Bagi Alfred, material tersebut justru menjadi sebuah ekosistem.

Jamur yang hidup di dalamnya memainkan bagian dalam proses penguraian material organik dan daur nutrisi di lingkungan.

Kisah penemu jamur dari kotoran hewan akhirnya menjadi contoh menarik tentang bagaimana rasa penasaran dapat berkembang menjadi kontribusi ilmiah.

Dari kamar tidur yang dipenuhi terrarium hingga dua spesies baru yang berhasil diidentifikasi, Alfred menunjukkan bahwa penemuan sains terkadang dapat bermula dari tempat yang sama sekali tidak terduga.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %