Samudra Hindia – Fenomena milky sea atau laut bercahaya menjadi salah satu kejadian alam paling misterius di lautan. Berbeda dengan bioluminesensi ombak yang biasanya terlihat sebagai kilatan biru, milky sea dapat membuat permukaan laut terlihat seperti hamparan putih kehijauan yang bercahaya secara terus-menerus.
Fenomena ini telah dilaporkan para pelaut selama berabad-abad. Penelitian modern kemudian menunjukkan bahwa cahaya tersebut dapat mencakup wilayah laut yang sangat luas.
Milky Sea Bisa Terlihat dari Satelit
Kemajuan teknologi satelit membuat ilmuwan kini dapat mencari fenomena tersebut dari luar angkasa.
Instrumen dengan kemampuan mendeteksi cahaya malam yang sangat redup memungkinkan peneliti mengidentifikasi wilayah laut yang memiliki pancaran tidak biasa.
Salah satu peristiwa besar yang dianalisis ilmuwan terjadi di sekitar Pulau Jawa pada 2019. Area bercahaya tersebut diperkirakan mencapai sekitar 100.000 kilometer persegi.
Bayangkan sebuah wilayah laut yang sangat luas tiba-tiba tampak bercahaya ketika malam tiba.
Bukan Cahaya dari Lampu Kapal
Cahaya tersebut merupakan fenomena biologis.
Penjelasan ilmiah utama mengaitkan milky sea dengan konsentrasi sangat besar bakteri bioluminesen. Mikroorganisme tersebut dapat menghasilkan cahaya melalui reaksi kimia di dalam tubuhnya.
Ketika jumlah organisme sangat besar dan kondisi lingkungan mendukung, pancaran cahaya dapat terlihat pada area yang luar biasa luas.
Namun, mekanisme lengkap terbentuknya milky sea masih terus dipelajari.
Bisa Bertahan Selama Berhari-hari
Fenomena bioluminesensi biasa sering terlihat ketika ombak atau gerakan air mengganggu organisme seperti dinoflagellata.
Milky sea berbeda.
Cahayanya dapat terlihat stabil dan terus menerus, bukan hanya muncul ketika air terganggu.
Beberapa laporan historis menggambarkan kapal seolah berlayar melewati lautan bersalju atau kabut putih bercahaya.
Fenomena tersebut juga dapat bertahan selama beberapa malam.
Pelaut Sudah Melaporkannya Selama Ratusan Tahun
Sebelum satelit mampu mendeteksinya, sebagian besar informasi mengenai milky sea berasal dari catatan kapal.
Para pelaut melaporkan melihat cakrawala bercahaya putih hingga kapal mereka seperti berada di tengah lautan susu.
Karena kejadian tersebut sangat jarang dan sulit diprediksi, ilmuwan hampir tidak pernah berada di lokasi tepat ketika fenomena berlangsung.
Itulah sebabnya data satelit menjadi sangat penting.
Ilmuwan Ingin Mengambil Sampel Langsung
Salah satu target penelitian berikutnya adalah menemukan milky sea ketika fenomena masih berlangsung dan mengirim kapal penelitian langsung ke lokasinya.
Dengan mengambil sampel air, ilmuwan dapat mengetahui organisme apa yang mendominasi, bagaimana kondisi suhu dan nutrisi air, serta faktor yang menyebabkan cahaya bertahan dalam skala sangat besar.
Data tersebut dapat menjawab misteri yang selama ini hanya terlihat melalui catatan kapal dan pengamatan satelit.
Laut Masih Menyimpan Fenomena yang Sulit Diprediksi
Milky sea memperlihatkan bahwa bahkan pada era satelit, banyak fenomena laut yang belum sepenuhnya dipahami.
Lautan mencakup sebagian besar permukaan Bumi, tetapi pengamatan langsung terhadap wilayahnya masih terbatas.
Fenomena milky sea atau laut bercahaya menjadi contoh spektakuler bagaimana mikroorganisme berukuran sangat kecil dapat menciptakan pemandangan yang terlihat hingga dari luar angkasa.
Bagi pelaut yang kebetulan berada di tengahnya, laut malam yang biasanya gelap dapat berubah menjadi hamparan putih bercahaya hingga ke cakrawala.

































































