StartCemerlang

| Berita Cemerlang Terbaru Hari Ini

Bocah 12 Tahun Temukan Jejak 160 Juta Tahun, Foto Isengnya Bikin Ilmuwan Turun Tangan

0 0
Read Time:2 Minute, 6 Second

Beijing, China – Penemuan jejak amfibi Jurassic di Beijing bermula bukan dari ekspedisi besar, melainkan rasa penasaran seorang anak bernama Ni Jingchen.

Pada awal 2025, Ni yang ketika itu berusia 12 tahun sedang menjelajahi distrik Mentougou bersama orang tuanya. Ia melihat dua bekas kecil yang tidak biasa pada sebuah lempengan batu.

Ni kemudian memotretnya dan mengunggah gambar tersebut ke internet.

Ternyata, foto sederhana itu menarik perhatian ahli paleontologi.

Jejak Amfibi Jurassic di Beijing

Associate Professor Xing Lida dari China University of Geosciences melihat unggahan Ni dan menyadari bahwa bentuk pada batu tersebut layak diperiksa lebih jauh.

Tim profesional kemudian mendatangi lokasi dan melakukan penelitian.

Hasil analisis menunjukkan kedua cetakan tersebut merupakan jejak kaki depan dan belakang seekor amfibi kecil yang hidup sekitar 160 juta tahun lalu, pada periode Jurassic Tengah.

Hewan pembuat jejak diperkirakan berkaitan dengan kelompok Salamandroidea, kelompok yang mencakup salamander modern.

Cuma Dua Bekas Kecil di Batu

Sekilas, temuan tersebut mungkin tidak terlihat spektakuler.

Tidak ada kerangka dinosaurus raksasa atau tengkorak besar. Yang ditemukan Ni hanyalah dua jejak berukuran kecil pada permukaan batu.

Namun, jejak fosil berbeda dengan fosil tulang.

Jejak dapat merekam aktivitas seekor hewan ketika masih hidup, termasuk bagaimana tubuhnya menyentuh permukaan tanah jutaan tahun lalu.

Karena amfibi kecil meninggalkan jejak yang sulit terawetkan dan dikenali, fosil semacam ini sangat jarang ditemukan.

Ternyata Penemuan Pertama di Asia

Inilah yang membuat temuan Ni semakin penting.

Jejak tersebut dilaporkan menjadi jejak amfibi dari periode Jurassic pertama yang dideskripsikan secara ilmiah dari China sekaligus Asia.

Penemuan itu memberikan bukti tambahan mengenai keberadaan dan aktivitas amfibi kecil di ekosistem Jurassic Asia.

Artinya, dua cetakan mungil pada batu mampu memberikan informasi yang sebelumnya hilang dari catatan fosil kawasan tersebut.

Internet Membawa Foto ke Ilmuwan

Ada sisi menarik lain dari kisah ini.

Jika Ni hanya melihat batu tersebut lalu meninggalkannya, jejak itu mungkin tidak langsung memperoleh perhatian ilmiah.

Unggahan internet membuat pengamatan seorang anak dapat dilihat oleh paleontolog profesional.

Kasus tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat dapat berkontribusi terhadap penelitian melalui dokumentasi temuan di lapangan.

Dari Jalan-Jalan Keluarga Jadi Penemuan Ilmiah

Ni Jingchen bukan peneliti profesional ketika menemukan batu tersebut.

Ia hanyalah seorang penggemar fosil muda yang cukup jeli untuk menyadari bahwa dua bekas kecil itu terlihat berbeda.

Rasa penasaran tersebut akhirnya membawa ilmuwan ke lokasi dan menghasilkan temuan paleontologi penting.

Kisah jejak amfibi Jurassic di Beijing menjadi menarik bukan hanya karena usianya mencapai sekitar 160 juta tahun.

Penemuan ini juga memperlihatkan bahwa sesuatu yang tampak seperti dua goresan kecil di batu dapat menyimpan jejak kehidupan dari dunia yang telah hilang selama jutaan abad.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %