Teleskop Roman NASA bersiap membuka jendela baru menuju alam semesta. Observatorium luar angkasa tersebut dijadwalkan meluncur pada 30 Agustus 2026. Moreover, Roman dirancang untuk mengamati wilayah langit yang jauh lebih luas dibanding Hubble dalam sekali pengamatan.
Kemampuan tersebut membuat Roman berbeda dari banyak teleskop sebelumnya. Therefore, astronom dapat mengumpulkan data dalam skala sangat besar untuk mempelajari struktur kosmos.
Teleskop Roman NASA Punya Pandangan 100 Kali Lebih Luas
Hubble terkenal karena menghasilkan gambar alam semesta dengan detail tinggi.
However, area langit yang dapat diamati Hubble dalam satu pengamatan relatif kecil.
Roman menawarkan pendekatan berbeda.
Teleskop tersebut memiliki resolusi sekelas Hubble tetapi bidang pandang sekitar 100 kali lebih besar.
Bayangkan perbedaannya:
HUBBLE π β SATU AREA LANGIT
ROMAN π β Β±100Γ AREA LEBIH LUAS
As a result, survei yang sebelumnya membutuhkan banyak pengamatan dapat dilakukan jauh lebih efisien.
Lebih dari 1 Miliar Galaksi Jadi Target
Salah satu angka paling mencengangkan adalah jumlah galaksi yang akan dipelajari.
Roman diperkirakan dapat mengamati lebih dari satu miliar galaksi selama misinya.
Moreover, galaksi-galaksi tersebut berada pada berbagai jarak dan periode sejarah kosmik.
Data itu memungkinkan ilmuwan mempelajari bagaimana struktur alam semesta berubah sepanjang waktu.
Alurnya:
1 GALAKSI β JUTAAN GALAKSI β 1 MILIAR+ GALAKSI β PETA KOSMOS
Misteri Dark Energy Jadi Target Utama
Alam semesta ternyata tidak hanya mengembang.
Ekspansinya juga mengalami percepatan.
However, penyebab percepatan tersebut belum dipahami sepenuhnya. Ilmuwan menggunakan istilah dark energy untuk menggambarkan komponen misterius yang berkaitan dengan fenomena tersebut.
Roman dirancang untuk membantu mengukurnya.
Therefore, teleskop akan mempelajari distribusi galaksi dalam skala kosmik.
Dark Matter Juga Akan Dipetakan
Ada misteri lain yang tidak terlihat secara langsung: dark matter.
Materi tersebut tidak memancarkan cahaya seperti bintang.
Nevertheless, efek gravitasinya dapat diamati.
For example, massa dapat membelokkan cahaya dari galaksi yang berada lebih jauh melalui fenomena gravitational lensing.
Roman dapat menggunakan distorsi tersebut untuk membantu memetakan distribusi materi tak terlihat.
Konsepnya:
GALAKSI JAUH β CAHAYA β DARK MATTER β CAHAYA MEMBELOK β ROMAN MENDETEKSI
Bisa Menemukan Ratusan Ribu Planet
Misi Roman tidak hanya mempelajari galaksi.
Planet juga menjadi target besar.
Roman diperkirakan dapat menemukan hingga sekitar 200.000 exoplanet melalui berbagai metode pengamatan, termasuk transit dan microlensing.
Meanwhile, microlensing memungkinkan astronom menemukan planet melalui perubahan cahaya yang terjadi ketika gravitasi objek di depan bertindak seperti lensa.
Beberapa planet tersebut dapat berada sangat jauh dari Bumi.
Bahkan Planet yang Mengembara Sendirian
Tidak semua planet mengorbit bintang.
Sebagian kemungkinan terlempar dari sistem asalnya dan bergerak sendirian melalui galaksi.
Objek tersebut dikenal sebagai rogue planet.
For example, teknik microlensing dapat membantu menemukan planet seperti ini meskipun tidak memiliki bintang induk terang.
Therefore, Roman dapat membantu astronom mengetahui seberapa umum planet pengembara di Bima Sakti.
Roman Bukan Pengganti James Webb
NASA kini akan memiliki beberapa observatorium dengan kemampuan berbeda.
James Webb sangat kuat untuk mengamati objek tertentu secara mendalam.
Meanwhile, Roman dirancang sebagai mesin survei langit berbidang luas.
Perbedaannya dapat dibayangkan seperti:
JAMES WEBB = ZOOM SANGAT DALAM π
ROMAN = PETA RAKSASA πΊοΈ
HUBBLE = DETAIL + WARISAN OBSERVASI π
Dengan demikian, ketiganya dapat saling melengkapi.
Data Roman Akan Sangat Besar
Bidang pandang yang luas berarti teleskop menghasilkan data dalam jumlah besar.
Astronom nantinya harus mencari galaksi, supernova, planet, dan fenomena lain di dalam kumpulan tersebut.
In addition, data survei dapat menghasilkan penemuan yang bahkan belum direncanakan sebelumnya.
Hal serupa pernah terjadi pada observatorium lain.
Data yang awalnya dikumpulkan untuk satu tujuan sering digunakan kembali bertahun-tahun kemudian untuk penelitian berbeda.
30 Agustus Menjadi Tanggal Penting
Peluncuran tetap menjadi tahap kritis sebelum observatorium dapat mulai bekerja.
However, apabila seluruh proses berjalan sesuai rencana, Roman akan memulai perjalanan menuju lokasi operasionalnya sebelum menjalankan survei ilmiah.
Misinya kemudian dapat menghasilkan salah satu peta alam semesta terbesar yang pernah dibuat.
Finally, Teleskop Roman NASA tidak dirancang hanya untuk mengambil gambar cantik.
Teleskop ini akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan terbesar ilmu pengetahuan:
Apa sebenarnya dark matter?
Mengapa ekspansi alam semesta semakin cepat?
Berapa banyak planet terdapat di galaksi kita?
Dan mungkin yang paling menarik:












































































