StartCemerlang

| Berita Cemerlang Terbaru Hari Ini

Ular Baru Achalinus mirabilis Ditemukan Remaja 17 Tahun Setelah 40 Malam Pencarian

0 0
Read Time:5 Minute, 42 Second

Ular baru Achalinus mirabilis berhasil diidentifikasi setelah seorang pelajar berusia 17 tahun menghabiskan lebih dari 40 malam menyusuri Pegunungan Kuocang di Provinsi Zhejiang, China. Remaja bernama Hu Jiahao itu bahkan terkadang menempuh perjalanan pulang-pergi hampir 100 kilometer untuk mencari ular misterius yang sebelumnya hanya ditemukan dalam kondisi tidak lengkap.

Ketekunan Hu akhirnya membuahkan hasil pada 17 Agustus 2025. Seekor ular betina dewasa melintas di jalan ketika ia sedang turun dari pegunungan. Spesimen tersebut kemudian menjadi holotipe atau spesimen acuan utama dalam deskripsi ilmiah ular baru Achalinus mirabilis. Kisah penemuannya kembali mendapat perhatian setelah dipublikasikan pada awal September 2026.

Ular Baru Achalinus mirabilis Berawal dari Temuan Misterius

Kisah penemuan ini sebenarnya dimulai pada 18 Oktober 2024. Zhou Jiajun dari Zhejiang Forest Resources Monitoring Centre bersama penggemar biologi lokal Chen Haojun menemukan sisa seekor ular tidak biasa ketika melakukan survei di Pegunungan Kuocang.

Ular tersebut memiliki tubuh ramping dengan warna cokelat hingga cokelat gelap. Karakteristiknya terlihat berbeda dari spesies yang biasa mereka temukan.

Sayangnya, spesimen itu tidak lengkap.

Kondisi tersebut membuat peneliti kesulitan menentukan apakah ular itu merupakan spesies yang telah dikenal atau sesuatu yang benar-benar baru bagi ilmu pengetahuan. Mereka membutuhkan spesimen lengkap untuk melakukan pemeriksaan lebih mendalam.

Remaja 17 Tahun Ikut Mencari Ular Misterius

Informasi mengenai ular misterius itu kemudian sampai kepada Hu Jiahao. Pelajar berusia 17 tahun tersebut memang telah tertarik dengan satwa liar sejak masih kecil dan sering menghabiskan waktu luangnya untuk mengamati serta memotret hewan.

Hu kemudian menghubungi Zhou Jiajun melalui komunitas sains daring.

Alih-alih sekadar mengikuti perkembangan penelitian, Hu memutuskan ikut mencari ular tersebut secara langsung.

Pada musim panas 2025, ia mulai mendatangi Pegunungan Kuocang setelah menyelesaikan kegiatan belajarnya.

Pencarian dilakukan pada malam hari karena ular yang diburunya sulit ditemukan.

Lebih dari 40 Malam Menyusuri Pegunungan

Menemukan ular baru Achalinus mirabilis ternyata membutuhkan kesabaran luar biasa. Hu menghabiskan lebih dari 40 malam melakukan pencarian.

Dalam beberapa kesempatan, perjalanan pulang-pergi yang ditempuhnya mencapai hampir 100 kilometer.

Awalnya Hu memilih malam ketika hujan turun. Strategi tersebut masuk akal karena berbagai jenis ular menjadi lebih aktif ketika kondisi lingkungan basah.

Namun pencarian itu tidak membuahkan hasil.

Setelah berkali-kali gagal, Hu mengubah strateginya dan mulai melakukan pencarian ketika cuaca cerah.

Perubahan sederhana tersebut akhirnya menghasilkan penemuan yang dicari selama berbulan-bulan.

Seekor Ular Tiba-Tiba Melintasi Jalan

Pada 17 Agustus 2025, Hu sedang turun dari Pegunungan Kuocang ketika melihat seekor ular ramping melintasi jalan.

Ia segera mendekatinya.

Karakteristik ular tersebut terlihat mirip dengan spesimen tidak lengkap yang ditemukan sebelumnya.

Hu akhirnya mendapatkan seekor betina dewasa dengan panjang moncong hingga kloaka sekitar 332 milimeter. Spesimen lengkap inilah yang kemudian memungkinkan peneliti melakukan pemeriksaan lebih rinci.

Penemuan tersebut tidak membuat Hu berhenti mencari.

Dalam dua bulan berikutnya, ia menemukan empat spesimen tambahan, termasuk dua ular hidup dan dua individu yang ditemukan mati akibat kendaraan.

Spesimen Remaja Itu Menjadi Holotipe

Dalam ilmu taksonomi, spesimen yang digunakan sebagai acuan utama ketika sebuah spesies baru dideskripsikan disebut holotipe.

Ular betina yang ditemukan Hu pada 17 Agustus kemudian mendapatkan status tersebut.

Artinya, ketika ilmuwan di masa depan mempelajari dan membandingkan ular baru Achalinus mirabilis, spesimen yang ditemukan remaja berusia 17 tahun tersebut menjadi referensi ilmiah utama untuk spesies itu.

Empat spesimen lain digunakan untuk membantu penelitian dan perbandingan karakteristik.

Material yang lebih lengkap akhirnya memberikan data yang sebelumnya tidak tersedia dari temuan pertama pada 2024.

Tes DNA Memastikan Perbedaannya

Peneliti tidak menentukan spesies baru hanya berdasarkan penampilan.

Tim melakukan pemeriksaan karakteristik fisik sekaligus analisis genetika.

Salah satu bagian DNA yang diperiksa adalah gen mitokondria cytochrome oxidase I atau COI, yang sering digunakan sebagai semacam barcode genetik untuk membandingkan organisme.

Hasil analisis menunjukkan perbedaan genetik sekitar 9,5 hingga 10,9 persen dibandingkan kerabat terdekatnya.

Perbedaan tersebut, bersama karakteristik fisik yang khas, mendukung kesimpulan bahwa ular Pegunungan Kuocang merupakan spesies tersendiri.

Spesies itu kemudian diberi nama ilmiah Achalinus mirabilis.

Apa Arti Nama Achalinus mirabilis?

Spesies tersebut termasuk genus Achalinus, kelompok ular yang dikenal memiliki susunan sisik tidak biasa.

Nama umum bahasa Inggris yang diusulkan adalah Kuocang Mountain odd-scaled snake, merujuk pada lokasi ditemukannya ular tersebut dan karakteristik sisiknya.

Kata mirabilis dalam nama ilmiahnya dapat dikaitkan dengan sesuatu yang mengagumkan atau luar biasa.

Nama tersebut terasa sesuai dengan kisah penemuannya.

Spesimen yang akhirnya memungkinkan spesies tersebut dikenali bukan diperoleh melalui ekspedisi besar selama berbulan-bulan, melainkan berkat kegigihan seorang pelajar yang berulang kali kembali ke pegunungan setelah aktivitas belajarnya.

Lima Spesimen Membantu Mengungkap Spesies Baru

Keberhasilan mengidentifikasi ular baru Achalinus mirabilis menunjukkan mengapa memperoleh lebih dari satu spesimen sangat penting dalam penelitian taksonomi.

Satu individu yang rusak atau tidak lengkap dapat membuat beberapa karakteristik penting tidak dapat diamati.

Dengan adanya sejumlah spesimen, ilmuwan dapat menentukan karakteristik mana yang konsisten pada suatu populasi dan membandingkannya dengan spesies lain.

Peneliti akhirnya mempunyai material yang cukup untuk memeriksa bentuk tubuh, sisik, karakteristik anatomis, serta DNA ular Pegunungan Kuocang.

Hasil gabungan dari bukti tersebut mendukung penetapan Achalinus mirabilis sebagai spesies berbeda.

Bukti Penting Peran Citizen Science

Cerita Hu Jiahao juga menjadi contoh menarik mengenai citizen science atau keterlibatan masyarakat dalam penelitian ilmiah.

Penemuan spesies baru tidak selalu hanya berasal dari ilmuwan profesional.

Pengamat burung, fotografer alam, penyelam, pendaki, pelajar, dan masyarakat lokal dapat memberikan informasi berharga mengenai organisme yang jarang ditemukan.

Dalam kasus Achalinus mirabilis, spesimen pertama memang ditemukan oleh pekerja lapangan berpengalaman. Namun kegigihan seorang pelajar kemudian menghasilkan material lengkap yang dibutuhkan untuk mengungkap identitas ular tersebut.

Kolaborasi antara masyarakat dan peneliti seperti ini semakin penting karena masih banyak spesies yang belum terdokumentasikan secara ilmiah.

Pegunungan Bisa Menyimpan Spesies yang Belum Dikenal

Pegunungan Kuocang menjadi contoh bagaimana suatu kawasan dapat menyimpan biodiversitas yang belum sepenuhnya dipahami.

Hewan kecil dan memiliki kebiasaan tersembunyi seperti Achalinus sangat mudah luput dari pengamatan.

Beberapa spesies mungkin hanya aktif pada kondisi tertentu atau hidup dalam habitat yang sangat terbatas.

Karena itu, tidak mengherankan apabila spesies dapat berada di suatu kawasan selama ribuan tahun tanpa pernah mendapatkan deskripsi ilmiah resmi.

Penemuan ular baru Achalinus mirabilis menunjukkan bahwa eksplorasi biodiversitas masih dapat menghasilkan kejutan bahkan di wilayah yang telah dihuni manusia.

Dari 40 Malam Pencarian Menjadi Spesies Baru

Kisah ular baru Achalinus mirabilis menjadi menarik bukan hanya karena penemuan spesies yang sebelumnya tidak dikenal sains, tetapi juga perjalanan panjang di balik keberhasilannya. Hu Jiahao menghabiskan lebih dari 40 malam mencari ular tersebut dan terkadang menempuh perjalanan pulang-pergi hampir 100 kilometer.

Setelah berkali-kali gagal, perubahan strategi pencarian akhirnya mempertemukannya dengan seekor betina dewasa pada 17 Agustus 2025. Ular tersebut kemudian menjadi holotipe Achalinus mirabilis.

Hu bahkan melanjutkan pencarian dan menemukan empat spesimen tambahan dalam beberapa bulan berikutnya. Material tersebut membantu ilmuwan membandingkan karakteristik fisik dan genetika ular dengan kerabatnya.

Dari sebuah spesimen rusak yang ditemukan pada 2024, penelitian akhirnya berkembang menjadi pengenalan spesies baru.

Dan salah satu bagian terpenting dalam perjalanan tersebut datang dari remaja 17 tahun yang menolak berhenti mencari meskipun telah puluhan malam pulang tanpa menemukan ular yang diburunya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %