StartCemerlang

| Berita Cemerlang Terbaru Hari Ini

Rakun Membuat Mainan dari Sampah, Perilakunya Bahkan Ditiru Saudaranya

0 0
Read Time:7 Minute, 16 Second

Rakun membuat mainan dari sampah mungkin terdengar seperti adegan film animasi. Namun perilaku tersebut benar-benar didokumentasikan pada rakun kerdil Cozumel atau Procyon pygmaeus, spesies yang hanya hidup secara alami di Pulau Cozumel, Meksiko.

Dua rakun betina muda terlihat mengambil kertas seperti struk dan serbet dari tempat sampah. Kertas itu kemudian dibawa menuju mangkuk air, dibasahi, digulung bersama pasir hingga membentuk bola, lalu digunakan untuk bermain. Yang membuat pengamatan ini semakin menarik, perilaku tersebut tampaknya dapat dipelajari melalui pengamatan terhadap rakun lain.

Rakun Membuat Mainan dari Kertas Bekas

Penemuan tersebut terjadi ketika peneliti melakukan observasi lapangan terhadap rakun kerdil di sebuah lokasi wisata pantai di Cozumel pada Januari 2026.

Tujuan awal penelitian sebenarnya bukan mencari rakun yang membuat mainan.

Tim sedang mempelajari bagaimana industri pariwisata dan lingkungan yang telah dimodifikasi manusia memengaruhi kehidupan spesies yang sangat langka tersebut.

Kemudian terjadi sesuatu yang tidak diperkirakan.

Seekor rakun muda mengambil material kertas dari tempat sampah.

Alih-alih mencari sisa makanan di dalamnya, rakun membawa kertas tersebut menuju mangkuk air yang disediakan di dekat tempat berlindung mereka.

Kertas kemudian dicelupkan ke air.

Setelah basah, rakun menaruhnya di pasir dan mulai menekan, membalik, serta menggulungnya menggunakan kaki depan.

Perlahan material tersebut menjadi semakin padat.

Hasil akhirnya berbentuk seperti bola kecil.

Bola Sampah Itu Kemudian Dimainkan

Jika kertas hanya diremas, peneliti mungkin tidak akan menganggap perilaku tersebut terlalu istimewa.

Tetapi prosesnya tidak berhenti setelah bola terbentuk.

Rakun kemudian memainkan benda yang telah dibuatnya.

Bola dipukul menggunakan kaki depan, digelindingkan, dikejar di atas pasir, dan kembali dimanipulasi.

Artinya, benda tersebut tidak digunakan untuk mendapatkan makanan.

Perilakunya lebih sesuai dengan aktivitas bermain.

Dalam penelitian perilaku hewan, perbedaan tersebut penting karena penggunaan atau modifikasi benda biasanya banyak dipelajari dalam konteks memperoleh makanan.

Di sini, rakun justru memodifikasi material buatan manusia menjadi benda yang kemudian dipakai untuk bermain.

Diamati Selama 64 Jam

Peneliti tidak hanya melihat perilaku tersebut satu kali.

Observasi di lokasi utama dilakukan selama delapan periode pengamatan, masing-masing berlangsung sekitar delapan jam.

Total waktu pengamatan mencapai 64 jam.

Selama periode tersebut, peneliti mencatat 14 rangkaian pembuatan bola.

Sebanyak delapan percobaan menghasilkan bola yang selesai, sedangkan enam lainnya gagal atau tidak diselesaikan.

Tingkat keberhasilannya sekitar 57,1 persen.

Material yang digunakan juga beragam.

Rakun mengambil benda berbahan kertas seperti serbet, struk, dan pembungkus makanan.

Material kemudian melewati pola yang relatif konsisten: diambil, dibawa ke air, dibasahi, digulung atau ditekan bersama pasir, kemudian dimainkan.

Saudaranya Memperhatikan

Bagian paling menarik dari cerita rakun membuat mainan muncul ketika rakun kedua mulai terlibat.

Kedua rakun muda tersebut merupakan saudara betina.

Awalnya, salah satu rakun telah mampu menjalankan seluruh proses pembuatan bola.

Saudaranya kemudian terlihat memperhatikan.

Setelah mengamati proses tersebut, rakun kedua mengambil kertas dari tempat sampah yang sama dan mencoba melakukan aktivitas serupa.

Percobaan pertamanya tidak langsung berhasil.

Dalam salah satu interaksi, rakun yang lebih berpengalaman bahkan mengambil kertas dari tangan saudaranya dan menyelesaikan proses pembentukan bola.

Sementara itu, rakun kedua memainkan bola yang sebelumnya sudah berhasil dibuat.

Kemudian Bisa Membuat Bola Sendiri

Beberapa hari kemudian terjadi perkembangan yang lebih mengejutkan.

Rakun yang pertama kali menunjukkan perilaku tersebut harus dipindahkan dari lokasi untuk menjalani perawatan rehabilitasi.

Saudaranya kini tidak lagi mempunyai contoh langsung untuk diamati.

Namun pada 29 Januari 2026, peneliti melihat rakun kedua mengambil pembungkus hamburger.

Ia membawa material tersebut, membuatnya bersentuhan dengan air, lalu menggulungnya menggunakan pasir dan batu.

Akhirnya terbentuk sebuah bola.

Setelah itu, rakun memukul dan mengejar bola tersebut di atas pasir.

Dengan demikian, kedua rakun akhirnya berhasil melakukan seluruh rangkaian pembuatan mainan secara independen.

Apakah Rakun Punya Budaya?

Temuan tersebut membawa peneliti menuju pertanyaan yang jauh lebih besar.

Apakah rakun mempunyai sesuatu yang menyerupai budaya?

Dalam ilmu perilaku hewan, budaya tidak berarti hewan harus mempunyai bahasa tertulis, musik, atau seni seperti manusia.

Konsepnya dapat mencakup perilaku yang dipelajari secara sosial dan kemudian menyebar atau bertahan dalam kelompok.

Penggunaan benda juga dapat menjadi bagian dari apa yang disebut material culture.

Perilaku seperti itu telah banyak dipelajari pada primata dan beberapa kelompok hewan lain.

Namun pada rakun, khususnya rakun kerdil Cozumel, perilaku pembuatan benda untuk bermain belum pernah dilaporkan seperti dalam pengamatan ini.

Peneliti Tetap Berhati-hati

Meski menarik, ilmuwan tidak langsung menyatakan bahwa rakun tersebut telah membangun tradisi budaya.

Studi secara eksplisit menyebut temuannya sebagai “preliminary evidence” atau bukti awal.

Ada alasan penting untuk kehati-hatian tersebut.

Pengamatan hanya melibatkan sejumlah kecil individu dan perilaku tersebut muncul secara tidak terduga.

Penelitian awal juga tidak dirancang sebagai eksperimen khusus untuk menguji transmisi budaya.

Karena itu, ilmuwan belum dapat memastikan mekanisme pembelajaran yang terjadi.

Yang dapat dikatakan adalah pola perilakunya konsisten dengan kemungkinan pembelajaran sosial.

Rakun kedua melihat rakun pertama melakukan aktivitas, mencoba perilaku serupa, kemudian akhirnya mampu menyelesaikannya sendiri.

Rakun di Lokasi Lain Tidak Melakukannya

Peneliti mempunyai pembanding yang menarik.

Mereka juga mengamati lokasi wisata lain di Cozumel yang mempunyai kondisi tertentu yang mirip.

Di sana terdapat rakun muda, sampah kertas, air tawar, serta hewan yang telah terbiasa dengan keberadaan manusia.

Secara teori, bahan untuk membuat bola tersedia.

Namun peneliti tidak melihat perilaku pembuatan bola di lokasi tersebut.

Kedua lokasi berjarak sekitar 30 kilometer.

Jarak tersebut cukup besar jika dibandingkan dengan wilayah jelajah rakun kerdil Cozumel.

Perbedaan itu memperkuat kemungkinan bahwa pembuatan bola bukan sekadar respons otomatis setiap rakun ketika menemukan kertas dan air.

Spesies Ini Hanya Ada di Satu Pulau

Cerita rakun membuat mainan menjadi semakin penting karena hewan yang melakukannya bukan rakun biasa.

Procyon pygmaeus merupakan spesies tersendiri yang hanya ditemukan secara alami di Pulau Cozumel, Meksiko.

Rakun ini berukuran lebih kecil daripada rakun daratan.

Populasinya menghadapi berbagai ancaman akibat perubahan habitat, pembangunan, jalan, aktivitas pariwisata, sampah, serta interaksi dengan lingkungan manusia.

Karena penyebarannya sangat terbatas, hilangnya habitat di Cozumel mempunyai konsekuensi besar.

Spesies tersebut tidak mempunyai populasi liar lain yang luas di daratan Meksiko.

Sampah Memberikan Peluang sekaligus Ancaman

Ada ironi besar dalam penemuan tersebut.

Sampah manusia memungkinkan peneliti melihat kemampuan perilaku yang sebelumnya tidak diketahui.

Namun sampah dan aktivitas manusia juga dapat membahayakan rakun.

Di kawasan wisata, rakun dapat memperoleh akses ke makanan manusia dan tempat sampah.

Hal itu dapat mengubah pola mencari makan alami serta membuat hewan semakin terbiasa mendekati manusia.

Material tertentu juga berpotensi menyebabkan cedera atau paparan zat berbahaya.

Karena itu, peneliti tidak menyarankan wisatawan memberikan sampah kepada rakun agar mereka dapat membuat mainan.

Perilaku tersebut diamati secara alami tanpa peneliti memberikan material atau mengarahkan aktivitas hewan.

Rakun Pertama Kemudian Mati

Cerita ini juga mempunyai bagian yang menyedihkan.

Rakun yang pertama kali memperlihatkan kemampuan membuat bola kemudian jatuh sakit, dipindahkan untuk menjalani rehabilitasi, dan akhirnya mati.

Menurut laporan penelitian dan keterangan peneliti, kondisinya berkaitan dengan komplikasi malnutrisi serta paparan polutan di lingkungan yang telah banyak dipengaruhi aktivitas manusia.

Namun perilaku yang pernah dilakukannya tidak langsung menghilang.

Saudaranya telah melihat dan mencoba proses tersebut sebelumnya.

Setelah rakun pertama tidak berada di lokasi, rakun kedua masih mampu membuat bola sendiri.

Bagi peneliti, kejadian tersebut membuat kemungkinan transfer pengetahuan sosial menjadi semakin menarik.

Mainan Bisa Menjadi Petunjuk Kecerdasan Rakun

Rakun memang sudah dikenal mempunyai kemampuan manipulasi benda yang baik.

Kaki depannya sangat sensitif dan mampu melakukan gerakan yang cukup kompleks.

Mereka juga dikenal sebagai hewan yang fleksibel ketika menghadapi lingkungan baru.

Namun penelitian ini memperluas pertanyaan mengenai kemampuan tersebut.

Rakun tidak sekadar membuka wadah atau memindahkan benda demi mendapatkan makanan.

Dua individu dalam penelitian justru mengubah material menjadi bentuk baru dan kemudian menggunakannya dalam permainan.

Proses tersebut melibatkan beberapa tahap berbeda: memilih material, membawa material, menggunakan air, melakukan manipulasi berulang, menghasilkan bola, kemudian bermain dengannya.

Penemuan Dipublikasikan pada Agustus 2026

Hasil pengamatan diterbitkan pada 25 Agustus 2026 dalam jurnal Wild dengan judul Preliminary Evidence of Material Culture in the Critically Endangered Pygmy Raccoon (Procyon pygmaeus).

Penelitian dilakukan oleh Nessie O’Neil, Michelle Szydlowski, dan Noel Anselmo Rivas-Camo.

Observasi lapangannya sendiri berlangsung antara Januari dan Februari 2026.

Berita mengenai penelitian tersebut kemudian kembali mendapat perhatian luas pada awal September setelah perilaku rakun diberitakan media sains internasional.

Rakun Membuat Mainan Membuka Pertanyaan Baru

Fenomena rakun membuat mainan belum cukup untuk membuktikan bahwa rakun kerdil mempunyai budaya kompleks seperti manusia.

Namun penelitian memberikan sesuatu yang tidak kalah menarik: bukti awal bahwa kemampuan mereka mungkin jauh lebih kaya daripada yang selama ini terdokumentasikan.

Dua rakun muda mengambil sampah kertas, membasahinya, memadatkannya bersama pasir, membuat benda berbentuk bola, kemudian menggunakannya untuk bermain.

Salah satu individu tampaknya memperoleh perilaku tersebut setelah mengamati saudaranya.

Di lokasi pembanding dengan material serupa, peneliti tidak menemukan aktivitas yang sama.

Kini penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui apakah perilaku tersebut hanya merupakan inovasi dalam satu keluarga atau dapat menyebar lebih jauh melalui pembelajaran sosial.

Bagi spesies yang terancam kritis dan hanya hidup di sebuah pulau kecil, jawabannya mempunyai arti lebih besar daripada sekadar mengetahui apakah rakun suka bermain bola.

Jika perilaku dapat dipelajari dan diwariskan secara sosial, hilangnya beberapa individu mungkin juga berarti hilangnya pengetahuan yang hanya dimiliki kelompok tersebut.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %