StartCemerlang

| Berita Cemerlang Terbaru Hari Ini

Kuil Romawi Kuno Dibangun Mengelilingi Makam Berusia 2.000 Tahun

0 0
Read Time:7 Minute, 40 Second

Kuil Romawi kuno di Suffolk, Inggris, ternyata menyimpan kisah yang jauh lebih panjang daripada yang diperkirakan. Penelitian arkeologi terbaru mengungkap bahwa masyarakat pada masa Romawi sengaja menjadikan sebuah gundukan pemakaman Zaman Perunggu sebagai pusat kompleks keagamaan mereka.

Ketika kompleks tersebut mulai berkembang sekitar abad kedua Masehi, monumen prasejarah itu sudah berusia kurang lebih 2.000 tahun. Orang Romawi tampaknya tidak menghancurkannya. Sebaliknya, mereka membangun ruang sakral di sekelilingnya dan mempertahankan gundukan kuno tersebut sebagai titik penting kegiatan ritual.

Kuil Romawi Kuno Mengelilingi Makam Zaman Perunggu

Situs tersebut berada di Red Lodge, Suffolk, Inggris timur.

Arkeolog pertama kali melakukan penggalian besar di lokasi bernama Land East of Kings Warren pada 2016 sebelum pembangunan perumahan dilakukan.

Di bawah tanah mereka menemukan jejak sebuah round barrow, yaitu gundukan pemakaman berbentuk bundar yang umum dibangun masyarakat prasejarah Inggris.

Monumen tersebut dikelilingi parit cincin dengan diameter sekitar 45 meter.

Penanggalan menggunakan Optically Stimulated Luminescence menunjukkan parit tersebut dibuat sekitar 2200–1600 SM.

Artinya, struktur itu berasal dari Zaman Perunggu Awal.

Gundukan Itu Sudah Kuno bagi Orang Romawi

Bagian paling menarik adalah perbedaan waktunya.

Ketika masyarakat Romawi menggunakan kawasan tersebut sebagai tempat ritual mulai sekitar abad kedua Masehi, gundukan itu sudah berdiri selama hampir dua milenium.

Bagi orang Romawi yang melihatnya, asal-usul sebenarnya kemungkinan sudah menjadi misteri.

Generasi yang membangun makam telah lama menghilang.

Namun bentuk gundukan masih terlihat di lanskap datar Suffolk.

Peneliti menduga tempat tersebut tetap mempunyai aura khusus bagi masyarakat lokal, meskipun makna aslinya mungkin sudah berubah berkali-kali.

Dibangun Ruang Sakral Raksasa

Masyarakat Romawi kemudian melakukan sesuatu yang menarik.

Mereka membuat sebuah temenos, yaitu area yang dibatasi khusus untuk kegiatan keagamaan.

Kompleks tersebut diperkirakan mempunyai ukuran sekitar 200 × 160 meter, atau kurang lebih 3,2 hektare.

Gundukan Zaman Perunggu berada kurang lebih di bagian tengah kompleks.

Posisinya tampaknya disengaja.

Alih-alih membangun tempat suci baru tanpa hubungan dengan masa lalu, masyarakat Romawi memasukkan monumen prasejarah tersebut ke dalam desain kawasan keagamaan.

Sebuah Shrine Dibangun di Sampingnya

Kompleks itu kemudian berkembang.

Pada periode Romawi yang lebih akhir, sebuah bangunan kecil didirikan tepat di sebelah timur parit gundukan.

Arkeolog menafsirkannya sebagai shrine atau tempat pemujaan.

Bangunannya relatif kecil, dengan jejak struktur sekitar lima meter pada salah satu sisinya.

Tetapi benda-benda di sekitarnya menunjukkan bahwa lokasi tersebut mempunyai fungsi lebih dari sekadar bangunan biasa.

Koin, perhiasan, fragmen benda logam, tulang hewan, dan berbagai material lain ditemukan di sekitar kawasan sakral.

Sebagian kemungkinan merupakan persembahan.

Kepala dan Kaki Babi Ditemukan

Salah satu penemuan paling mencolok adalah deposit tulang babi.

Arkeolog menemukan beberapa kumpulan yang disebut “head-and-hoof deposits”.

Artinya, bagian kepala dan kaki babi ditempatkan bersama secara terstruktur.

Pola seperti itu berbeda dari sampah makanan biasa.

Karena ditemukan di dalam kompleks keagamaan dan dekat shrine, para peneliti menafsirkannya sebagai kemungkinan bagian dari aktivitas ritual.

Babi memang mempunyai peranan dalam berbagai praktik keagamaan dunia Romawi.

Namun kita tidak mengetahui secara pasti ritual apa yang dilakukan di Red Lodge atau kepada dewa mana persembahan tersebut ditujukan.

Koin dan Perhiasan Ikut Ditemukan

Bukan hanya tulang hewan.

Pada pengisian kembali parit lingkaran, arkeolog menemukan 11 koin, sebuah bros dari paduan tembaga, dua gelang, sendok, dan pinset.

Salah satu gelang menunjukkan tanda kemungkinan sengaja dipatahkan.

Tindakan merusak benda sebelum menaruhnya di lokasi sakral dikenal dari berbagai konteks arkeologi.

Benda tersebut dapat kehilangan fungsi sehari-harinya sebelum diberikan sebagai persembahan.

Namun peneliti tetap berhati-hati karena tidak setiap benda yang ditemukan di kompleks keagamaan otomatis merupakan persembahan ritual.

Mengapa Orang Romawi Memilih Makam yang Sangat Tua?

Pertanyaan terbesar adalah mengapa masyarakat Romawi tertarik pada gundukan tersebut.

Tidak ada tulisan yang menjelaskan alasannya.

Peneliti hanya dapat membuat interpretasi berdasarkan struktur situs dan bukti arkeologi.

Salah satu kemungkinan adalah masyarakat lokal menganggap gundukan itu sebagai tempat yang mempunyai kekuatan religius.

Asal-usulnya mungkin sudah tidak diketahui.

Monumen tersebut bisa saja dianggap sebagai makam leluhur penting, tokoh legendaris, atau tempat yang mempunyai hubungan dengan dunia supernatural.

Apa pun ceritanya, gundukan tersebut cukup penting hingga kompleks sakral Romawi dibangun mengelilinginya.

Makna Makam Bisa Berubah Selama Ribuan Tahun

Fenomena ini menunjukkan sesuatu yang menarik mengenai hubungan manusia dengan masa lalu.

Ketika masyarakat Zaman Perunggu membangun gundukan tersebut sekitar empat milenium lalu, mereka mempunyai alasan dan kepercayaan tertentu.

Ratusan tahun kemudian, masyarakat Zaman Besi mungkin memberikan makna berbeda.

Kemudian datang masyarakat pada periode Romawi.

Mereka melihat monumen yang sama tetapi kemungkinan mempunyai cerita baru mengenai asal-usulnya.

Satu tempat akhirnya dapat digunakan oleh beberapa kebudayaan berbeda tanpa masing-masing mengetahui sepenuhnya alasan generasi sebelumnya menganggapnya penting.

Parit Makam Digali Kembali

Ada bukti bahwa masyarakat Romawi tidak sekadar membangun di dekat monumen.

Parit lingkaran Zaman Perunggu tampaknya digali atau dipotong kembali pada periode Romawi.

Hal tersebut menunjukkan keterlibatan aktif dengan struktur lama.

Pengisian parit kemudian menghasilkan temuan dari periode Romawi akhir, termasuk tembikar yang berasal dari sekitar 250–325 Masehi.

Artinya, tempat tersebut bukan sekadar latar belakang bagi shrine.

Monumen prasejarah itu sendiri tampaknya menjadi bagian penting dari ruang ritual.

Kompleks Bertahan Hingga Abad Keempat

Aktivitas keagamaan di situs tidak berlangsung sebentar.

Bukti menunjukkan kompleks digunakan dari sekitar abad kedua hingga akhir abad keempat Masehi.

Selama beberapa generasi, masyarakat terus datang ke kawasan tersebut.

Shrine ditambahkan, benda-benda ditempatkan dan aktivitas ritual berlangsung di sekitar gundukan.

Ketika Kekaisaran Romawi di Britania mulai mengalami perubahan besar menjelang abad kelima, penggunaan religius kawasan akhirnya berhenti.

Namun kisah tempat tersebut ternyata belum selesai.

Berabad-abad Kemudian Diduga Menjadi Lokasi Tiang Gantung

Ada babak lain yang jauh lebih gelap.

Sumber dokumenter dari 1238 menyebut keberadaan sebuah tiang gantung pada kawasan perbatasan yang kemungkinan berada di sekitar gundukan tersebut.

Arkeolog juga menemukan satu pemakaman manusia abad pertengahan yang dimasukkan ke bagian atas parit kompleks Romawi.

Peneliti mengemukakan kemungkinan bahwa individu tersebut berkaitan dengan eksekusi.

Tetapi interpretasi tersebut belum dapat dipastikan.

Jika benar, satu lokasi yang awalnya menjadi makam Zaman Perunggu kemudian menjadi pusat keagamaan Romawi dan akhirnya mungkin digunakan sebagai tempat eksekusi pada Abad Pertengahan.

Satu Tempat Digunakan Selama Ribuan Tahun

Inilah bagian yang membuat penemuan Red Lodge begitu menarik.

Situs tersebut tidak menceritakan satu periode sejarah.

Jejak aktivitas manusia ditemukan mulai dari Neolitikum hingga Abad Pertengahan.

Namun pusat ceritanya tetap gundukan Zaman Perunggu.

Monumen itu tampaknya menjadi penanda lanskap yang terus menarik perhatian manusia.

Fungsi dan ceritanya berubah.

Makam menjadi tempat sakral.

Tempat sakral kemudian ditinggalkan.

Berabad-abad kemudian kawasan yang sama mungkin memperoleh hubungan baru dengan hukuman dan kematian.

Bukan Kuil Megah seperti di Film

Ketika mendengar kuil Romawi kuno, orang mungkin membayangkan bangunan marmer besar dengan kolom tinggi.

Red Lodge sangat berbeda.

Ini merupakan kompleks keagamaan pedesaan.

Bangunan shrine-nya sederhana dan jejak fisiknya tidak semegah kuil-kuil monumental di Roma.

Justru kesederhanaan tersebut membuat situs penting.

Sebagian besar masyarakat Kekaisaran Romawi tidak melakukan aktivitas keagamaan setiap hari di bangunan monumental.

Tempat-tempat kecil dan sakral di pedesaan dapat memberikan gambaran mengenai praktik keagamaan masyarakat biasa.

Babi Menjadi Petunjuk Aktivitas Ritual

Deposit kepala dan kaki babi memberikan salah satu petunjuk paling nyata.

Dalam arkeologi, lokasi tulang sangat penting.

Tumpukan tulang dari dapur biasanya memiliki pola berbeda dibandingkan deposit yang sengaja ditempatkan.

Di Red Lodge, beberapa bagian babi berada dalam konteks yang berhubungan erat dengan shrine dan kawasan sakral.

Karena itu, peneliti menilai deposit tersebut kemungkinan merupakan tindakan ritual yang disengaja.

Namun detail upacaranya telah hilang.

Tidak ada teks yang memberi tahu siapa yang membawa babi tersebut, siapa yang melakukan ritual, atau apa yang mereka harapkan dari persembahan itu.

Arkeologi Membaca Cerita Tanpa Tulisan

Situs seperti Red Lodge menunjukkan bagaimana arkeolog merekonstruksi kehidupan ketika tidak ada catatan tertulis langsung.

Parit memberikan informasi mengenai bentuk kompleks.

Tembikar membantu menentukan periode aktivitas.

Koin memberikan petunjuk kronologi.

Tulang hewan memperlihatkan apa yang dilakukan manusia.

Sedangkan posisi seluruh benda tersebut membantu menentukan apakah aktivitasnya biasa atau ritual.

Ketika semua bukti digabungkan, sebuah lanskap yang awalnya hanya terlihat sebagai tanah kosong berubah menjadi cerita ribuan tahun.

Penelitian Resmi Terbit pada 2026

Penelitian mengenai situs Red Lodge ditulis oleh arkeolog Angus Forshaw dari Archaeology South-East, University College London.

Studi tersebut diterbitkan dalam jurnal Britannia oleh Cambridge University Press pada 12 Agustus 2026.

Analisis ilmiahnya membahas perjalanan panjang situs dari gundukan pemakaman Zaman Perunggu hingga penggunaannya sebagai kompleks keagamaan Romawi.

Pada 4 September 2026, penelitian tersebut kembali mendapat perhatian melalui pemberitaan sains karena interpretasinya yang tidak biasa: masyarakat Romawi pada dasarnya telah “mendaur ulang” monumen sakral yang saat itu sendiri sudah sangat kuno.

Kuil Romawi Kuno Menyimpan Misteri 4.000 Tahun

Temuan kuil Romawi kuno di Red Lodge menunjukkan bahwa manusia tidak selalu meninggalkan monumen generasi sebelumnya.

Terkadang mereka mengambilnya, memberikan cerita baru, lalu memasukkannya ke dalam kepercayaan mereka sendiri.

Gundukan tersebut pertama kali dibangun sekitar 2200–1600 SM.

Sekitar dua milenium kemudian, masyarakat Romawi membangun kawasan sakral seluas beberapa hektare mengelilinginya.

Sebuah shrine kemudian berdiri di samping gundukan, sementara kepala dan kaki babi, koin, perhiasan, serta benda-benda lain ditempatkan di kawasan tersebut.

Aktivitas religius berlanjut hingga akhir abad keempat.

Kemudian, berabad-abad setelah Romawi pergi dari Britania, lokasi yang sama kemungkinan kembali memperoleh makna baru pada masyarakat Abad Pertengahan.

Satu gundukan tanah akhirnya menjadi saksi perubahan kepercayaan manusia selama hampir 4.000 tahun.

Dan bagian paling menariknya mungkin tidak pernah dapat dijawab sepenuhnya: apa yang sebenarnya dibayangkan orang Romawi ketika berdiri di depan makam kuno yang bahkan bagi mereka sendiri sudah berasal dari masa yang sangat jauh?

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %