Antrean makanan viral sedang menjadi fenomena besar di sejumlah kota. Media sosial membuat makanan sederhana dapat berubah menjadi sensasi dalam waktu singkat. Bahkan, ada pelanggan yang rela menunggu hingga 24 jam demi mendapatkan kentang panggang setelah tempat makan tersebut ramai dibicarakan secara online.
TikTok dan Instagram memainkan peran besar dalam fenomena ini. Video makanan yang menggugah selera, ulasan influencer, dan rasa penasaran membuat ribuan orang ingin mencoba produk yang sama. Bagi bisnis kuliner, viralitas dapat meningkatkan penjualan secara drastis. Namun, popularitas mendadak juga membawa masalah baru.
Antrean Makanan Viral Bisa Muncul dalam Hitungan Hari
Salah satu contoh datang dari bisnis makanan CZER di London. Ide bisnis tersebut bermula setelah pendirinya melihat pengguna TikTok mengeluhkan sulitnya menemukan chopped chicken caesar salad wrap di London.
Pemilik kemudian mengembangkan produk dan mendokumentasikan proses membangun bisnis melalui media sosial.
Awalnya, mereka hanya memperkirakan penjualan sekitar 50 wrap per hari. Namun, setelah influencer mulai membicarakannya, permintaan melonjak hingga sekitar 400 wrap per hari. Antrean bahkan terus muncul selama berbulan-bulan.
Popularitas itu membuat CZER akhirnya mempekerjakan seseorang khusus untuk mengatur antrean.
Influencer Bisa Mengubah Restoran dalam Semalam
Fenomena serupa terjadi pada sejumlah bisnis lain.
August Bakery di London mulai menghadapi antrean panjang setelah akun Instagram Bite Twice mengulas produk mereka kepada hampir 300.000 pengikut pada Februari 2026. Sejak saat itu, antrean pelanggan terus muncul.
Selain itu, pembukaan jaringan frozen yoghurt Yo-Chi juga menunjukkan besarnya pengaruh influencer. Banyak kreator datang pada waktu yang hampir bersamaan. Konten mereka kemudian menciptakan rasa penasaran di internet.
Akibatnya, datang ke restoran bukan lagi sekadar soal membeli makanan. Mengantre dan membagikan pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari tren.
Mengapa Orang Rela Mengantre Berjam-jam?
Antrean makanan viral mempunyai efek psikologis yang menarik. Ketika seseorang melihat ratusan orang menunggu sebuah produk, rasa penasaran dapat meningkat.
Media sosial memperkuat efek tersebut.
Satu video memperlihatkan makanan. Video berikutnya menunjukkan antreannya. Selanjutnya, pengguna lain datang karena ingin mengetahui apakah produk tersebut memang pantas mendapatkan perhatian sebesar itu.
Akhirnya terbentuk siklus baru: makanan menjadi viral, antrean semakin panjang, lalu antrean itu sendiri menjadi konten viral.
Viral Tidak Selalu Menguntungkan Restoran
Namun, popularitas mendadak dapat menjadi masalah.
Restoran kecil mungkin belum memiliki cukup pekerja, bahan makanan, atau ruang untuk melayani ratusan pelanggan tambahan. Staf juga menghadapi tekanan lebih besar ketika permintaan meningkat secara tiba-tiba.
Selain itu, pelanggan yang menunggu terlalu lama dapat datang dengan ekspektasi sangat tinggi.
Makanan yang sebenarnya enak mungkin terasa mengecewakan setelah seseorang menghabiskan beberapa jam untuk mendapatkannya.
Beberapa pemilik bisnis yang diwawancarai The Guardian juga khawatir bahwa viralitas dapat mengubah ekspektasi pelanggan dan mengurangi perhatian terhadap kualitas makanan itu sendiri.
Media Sosial Mengubah Cara Orang Memilih Makanan
Fenomena antrean makanan viral menunjukkan perubahan besar dalam industri kuliner.
Dulu, restoran membangun reputasi melalui rekomendasi pelanggan dan ulasan media. Sekarang, sebuah video berdurasi beberapa detik dapat membawa ratusan orang menuju satu tempat.
Menariknya, makanan tersebut tidak selalu mewah. Kentang panggang, pastry, yoghurt, sandwich, atau wrap sederhana dapat menjadi sensasi jika memiliki cerita dan visual yang menarik.
Namun, viralitas tetap mempunyai dua sisi. Antrean panjang dapat membantu bisnis bertahan ketika biaya operasional meningkat. Sebaliknya, permintaan yang terlalu besar dapat membebani pekerja dan mengganggu pengalaman pelanggan.
Dari orang yang rela menunggu 24 jam demi kentang hingga restoran yang membutuhkan petugas khusus untuk mengatur barisan, antrean makanan viral menunjukkan betapa kuatnya media sosial mengubah perilaku konsumen. Kini, makanan tidak harus langka untuk diburu. Terkadang, cukup satu video viral untuk membuat ratusan orang ikut mengantre.



















































































































