StartCemerlang

| Berita Cemerlang Terbaru Hari Ini

Burung Beo Terberat di Dunia Bangkit dari Ambang Kepunahan, Populasi Kākāpō Tembus 325 Ekor

0 0
Read Time:4 Minute, 28 Second

Populasi kākāpō mencatat tonggak bersejarah di Selandia Baru. Burung beo unik yang tidak dapat terbang tersebut kini berjumlah 325 ekor, setelah musim berkembang biak 2026 menghasilkan puluhan anak baru.

Angka tersebut sangat penting.

Untuk pertama kalinya dalam sekitar 75 tahun, populasi kākāpō kembali melampaui 300 individu.

Pada 1 September 2026, sebanyak 90 anak kākāpō secara resmi ditambahkan ke populasi setelah mencapai usia yang dianggap cukup mandiri.

Pencapaian tersebut menjadi kabar besar bagi upaya konservasi salah satu burung paling aneh sekaligus paling terancam di dunia.

Populasi Kākāpō Tembus 325 Ekor

Kākāpō (Strigops habroptilus) merupakan burung endemik Selandia Baru.

Burung ini mempunyai kombinasi karakteristik yang sangat tidak biasa.

Kākāpō adalah burung beo.

Namun ia tidak bisa terbang.

Aktivitasnya sebagian besar berlangsung pada malam hari.

Tubuhnya besar dan berat, dengan individu tertentu dapat mencapai sekitar 4 kilogram.

Karakteristik tersebut membuat kākāpō dikenal sebagai burung beo terberat di dunia.

Kini jumlah keseluruhannya mencapai 325 individu setelah musim reproduksi yang luar biasa sukses.

Sebanyak 90 Anak Lahir dalam Musim Bersejarah

Lonjakan populasi kākāpō tidak terjadi secara perlahan tahun ini.

Musim berkembang biak 2026 menghasilkan rekor.

Sebanyak 90 anak akhirnya mencapai tahap yang memungkinkan mereka dimasukkan ke dalam penghitungan populasi.

Skala keberhasilan tersebut terlihat semakin luar biasa jika dibandingkan dengan masa awal program pemulihan.

Menurut pengelola konservasi, pada periode awal program dibutuhkan sekitar 16 tahun untuk menghasilkan jumlah anak sebanyak itu.

Kini pencapaian serupa berhasil diperoleh dalam satu musim berkembang biak.

Pohon Rimu Menjadi Salah Satu Kuncinya

Kākāpō mempunyai pola reproduksi yang tidak biasa.

Mereka tidak selalu berkembang biak setiap tahun.

Musim kawin biasanya berkaitan erat dengan produksi buah dalam jumlah besar dari pohon rimu, tumbuhan asli Selandia Baru.

Peristiwa ketika pohon menghasilkan buah secara sangat melimpah menyediakan sumber makanan penting bagi betina dan anak kākāpō.

Akibatnya, musim reproduksi besar dapat terpisah selama beberapa tahun.

Sebelum keberhasilan 2026, terdapat jeda sekitar empat tahun antara musim berkembang biak.

Produksi buah rimu yang melimpah kemudian membantu memicu musim reproduksi yang menghasilkan rekor baru.

Kākāpō Hampir Menghilang

Keberhasilan tersebut terasa semakin dramatis ketika melihat sejarah spesies ini.

Kākāpō dahulu tersebar luas di Selandia Baru.

Namun kedatangan predator yang diperkenalkan manusia memberikan tekanan besar terhadap populasinya.

Kucing dan stoat termasuk predator yang menjadi ancaman serius.

Kemampuan terbang yang hilang selama evolusi membuat kākāpō sangat rentan terhadap predator darat yang sebelumnya tidak menjadi bagian dari lingkungan mereka.

Pada abad ke-20, spesies tersebut berada dalam kondisi sangat kritis.

Ketika program pemulihan modern dimulai pada 1995, jumlah kākāpō yang tersisa hanya sekitar 51 ekor.

Dari 51 Menjadi 325 Burung

Perjalanan dari 51 menuju 325 individu membutuhkan puluhan tahun.

Konservasionis memindahkan populasi berkembang biak ke pulau-pulau yang terlindungi dari predator.

Setiap burung menjadi sangat berharga.

Individu dapat dipantau.

Proses reproduksi diawasi.

Telur dan anak burung memperoleh perhatian intensif ketika diperlukan.

Program tersebut juga harus menghadapi masalah lain.

Populasi yang sangat kecil menyebabkan keragaman genetik rendah.

Selain itu, infertilitas dan rendahnya tingkat keberhasilan penetasan menjadi tantangan.

Karena itu, bertambahnya populasi kākāpō hingga 325 bukan sekadar angka statistik.

Setiap individu merupakan bagian dari proses konservasi yang berlangsung selama puluhan tahun.

Burung Beo yang Berjalan di Tanah

Kākāpō mempunyai penampilan yang mudah dikenali.

Tubuhnya besar.

Bulunya didominasi hijau dengan pola yang membantu menyamarkannya di vegetasi.

Wajahnya mempunyai susunan bulu yang terkadang membuat ekspresinya terlihat seperti burung hantu.

Sayap masih dimiliki, tetapi tidak cukup untuk membuat tubuh besarnya terbang seperti burung beo pada umumnya.

Kākāpō lebih banyak berjalan dan memanjat.

Gaya hidup tersebut merupakan hasil evolusi panjang di lingkungan yang dahulu mempunyai sedikit predator mamalia darat.

Suara Pejantan Bisa Menempuh Kilometer

Keunikan lainnya muncul ketika musim kawin tiba.

Kākāpō jantan menggunakan strategi yang disebut lek breeding.

Pejantan membuat cekungan di tanah dan menghasilkan suara rendah yang dikenal sebagai booming.

Suara tersebut berasal dari kantung udara di tubuhnya.

Dentuman rendahnya dapat merambat sangat jauh melalui lingkungan.

Menurut laporan konservasi, suara pejantan bahkan dapat terdengar hingga sekitar 5 kilometer dalam kondisi tertentu.

Tujuannya sederhana:

menarik perhatian betina.

Bayangkan burung beo besar yang tidak bisa terbang, berjalan di hutan malam, kemudian menghasilkan dentuman rendah yang dapat terdengar dari kilometer jauhnya.

Sulit menemukan burung lain dengan kombinasi karakter seperti itu.

Kākāpō Bisa Hidup Puluhan Tahun

Kākāpō juga dikenal mempunyai umur panjang.

Burung ini diperkirakan dapat hidup sekitar 60 hingga 80 tahun.

Umur panjang memberikan keuntungan bagi konservasi karena individu dewasa mempunyai banyak kesempatan untuk berkembang biak sepanjang hidupnya.

Namun reproduksi yang hanya terjadi pada periode tertentu membuat pertumbuhan populasi tetap berlangsung relatif lambat.

Karena itu, satu musim sukses seperti 2026 memberikan dampak yang sangat besar.

Belum Bisa Dikatakan Aman

Walaupun populasi kākāpō kini mencapai rekor baru, jumlah 325 individu masih sangat kecil untuk sebuah spesies.

Ancaman belum hilang.

Keragaman genetik tetap menjadi persoalan.

Kesuburan juga harus terus diperhatikan.

Selain itu, keberhasilan reproduksi sangat dipengaruhi kondisi lingkungan dan ketersediaan makanan.

Karena itulah program konservasi tetap diperlukan.

Para pengelola bahkan sudah mulai mempersiapkan kemungkinan musim berkembang biak berikutnya yang diperkirakan dapat terjadi sekitar 2028.

Dari Hampir Punah Menjadi Rekor 75 Tahun

Kisah kākāpō menunjukkan bagaimana nasib sebuah spesies dapat berubah.

Pada 1995, program pemulihan menghadapi populasi yang hanya berjumlah 51 individu.

Tiga dekade kemudian, jumlah tersebut telah meningkat menjadi 325 burung.

Perjalanannya masih panjang.

Namun untuk pertama kalinya dalam sekitar 75 tahun, lebih dari 300 kākāpō kembali hidup di dunia.

Dan 90 anggota termuda dari populasi tersebut membawa sesuatu yang sangat penting bagi spesies yang pernah berada begitu dekat dengan kepunahan:

kesempatan untuk terus bertahan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %