Robot humanoid mulai menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan dapat masuk langsung ke aktivitas sehari-hari. Bukan sekadar tampil dalam pameran teknologi atau bekerja di laboratorium, robot kini mulai digunakan untuk melayani pembeli di toko.
Fenomena terbaru datang dari Hong Kong. Perusahaan robotika asal Beijing, Galbot, membuka tiga convenience store atau toko serba ada yang operasionalnya menggunakan robot humanoid G1. Kehadiran toko tersebut langsung menarik perhatian pengunjung yang penasaran melihat robot bekerja di lingkungan ritel.
Perkembangan ini menjadi gambaran menarik tentang masa depan otomatisasi. Namun, pengalaman awal juga memperlihatkan bahwa robot masih mempunyai keterbatasan ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.
Robot Humanoid Mulai Masuk Toko
Penggunaan robot humanoid sebelumnya lebih sering dikaitkan dengan pabrik dan gudang.
Lingkungan tersebut relatif terstruktur. Robot dapat diberikan pekerjaan berulang seperti memindahkan barang, menyusun komponen atau membantu proses produksi.
Toko mempunyai tantangan berbeda.
Robot harus berhadapan dengan konsumen, berbagai jenis produk dan kondisi yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Karena itu, penggunaan robot di convenience store menjadi pengujian menarik mengenai kemampuan teknologi humanoid beroperasi di lingkungan publik.
Tiga Toko Robot Dibuka di Hong Kong
Reuters melaporkan Galbot telah membuka tiga toko yang dioperasikan robot di Hong Kong.
Robot G1 menjadi bagian utama dalam pelayanan di gerai tersebut.
Pengunjung dapat memesan berbagai produk, kemudian robot menjalankan proses pelayanan yang diperlukan.
Konsep tersebut membuat toko terasa seperti demonstrasi teknologi sekaligus tempat belanja.
Bagi pengunjung, melihat robot mengambil dan menyiapkan barang memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan convenience store biasa.
Pembeli Penasaran dengan Robot Humanoid
Kehadiran robot humanoid membuat tiga toko tersebut menarik perhatian masyarakat.
Sebagian pengunjung yang diwawancarai Reuters menggambarkan pengalaman menggunakan toko robot sebagai sesuatu yang menghibur.
Namun, mereka juga menemukan keterbatasan.
Robot terkadang mengalami kesulitan ketika menghadapi keadaan yang berada di luar skenario yang sudah dipersiapkan.
Kondisi tersebut memperlihatkan perbedaan antara demonstrasi teknologi dan penggunaan di dunia nyata.
Robot dapat terlihat sangat canggih ketika melakukan tugas tertentu, tetapi lingkungan manusia mempunyai banyak situasi yang sulit diprediksi.
Otak AI Masih Menjadi Tantangan
Perkembangan fisik robot humanoid berlangsung sangat cepat.
Robot modern sudah mampu berjalan, membawa benda, menggunakan tangan mekanis dan melakukan sejumlah pekerjaan dengan tingkat presisi tinggi.
Namun, kemampuan fisik bukan satu-satunya faktor.
Robot juga membutuhkan sistem AI yang mampu memahami lingkungan dan mengambil keputusan ketika terjadi perubahan.
Misalnya, sebuah barang mungkin berada di lokasi berbeda, konsumen dapat memberikan instruksi yang tidak biasa atau terdapat benda yang menghalangi jalur robot.
Situasi seperti itu membutuhkan kemampuan adaptasi.
Robot Tidak Hanya Dikembangkan untuk Ritel
Industri humanoid berkembang jauh melampaui toko.
Pendiri dan CEO perusahaan Jerman Agile Robots, Zhaopeng Chen, mengatakan robot perusahaan tersebut telah digunakan dalam berbagai skenario, termasuk manufaktur elektronik, otomotif dan kesehatan. Reuters menampilkan lebih dari 20.000 robot yang menurut Chen telah bekerja dalam berbagai lingkungan tersebut.
Hal ini menunjukkan pasar robot tidak hanya diarahkan kepada konsumen.
Pabrik dan perusahaan menjadi target besar karena banyak pekerjaan mempunyai proses yang dapat diotomatisasi.
Robot humanoid mempunyai daya tarik khusus karena bentuk tubuhnya dirancang agar dapat bekerja dalam lingkungan yang sebelumnya dibuat untuk manusia.
Robot Humanoid Diprediksi Jadi Industri Raksasa
Potensi ekonomi teknologi ini juga sangat besar.
Chen memperkirakan pasar humanoid pada masa depan dapat mencapai ukuran hingga 10 kali industri otomotif. Ia membandingkannya dengan industri mobil yang saat ini menghasilkan sekitar 90 juta kendaraan per tahun.
Perkiraan tersebut tentu merupakan pandangan seorang pelaku industri, bukan kepastian mengenai ukuran pasar di masa depan.
Namun, optimisme tersebut menunjukkan besarnya ekspektasi terhadap robot humanoid.
Perusahaan teknologi melihat kemungkinan bahwa robot suatu hari dapat digunakan di pabrik, rumah sakit, toko, gudang hingga rumah.
Robot di Rumah Bisa Menjadi Tren Berikutnya
Salah satu visi terbesar industri adalah menjadikan robot humanoid sebagai perangkat konsumen.
Jika sekarang rumah mempunyai televisi, komputer, smartphone dan perangkat rumah pintar, perusahaan robotika membayangkan humanoid suatu hari dapat menjadi perangkat tambahan di rumah.
Robot dapat membantu membawa barang, membersihkan ruangan atau melakukan pekerjaan rutin lainnya.
Namun, teknologi harus menjadi jauh lebih aman dan andal sebelum penggunaan seperti itu dapat dilakukan secara luas.
Harga juga menjadi faktor penting.
Robot yang sangat mahal akan sulit menjadi produk massal.
AI Membuat Robot Semakin Pintar
Perkembangan kecerdasan buatan memberikan dorongan besar bagi robotika.
Model AI memungkinkan robot mempelajari pola, memahami instruksi dan mengenali lingkungan dengan lebih baik.
Perusahaan juga mulai mengembangkan konsep physical AI, yaitu kecerdasan buatan yang tidak hanya bekerja di layar tetapi dapat berinteraksi dengan dunia fisik.
Perubahan tersebut membuat AI mempunyai tantangan baru.
Kesalahan chatbot mungkin hanya menghasilkan jawaban yang salah. Namun, kesalahan robot dapat menyebabkan benda terjatuh atau bahkan menimbulkan risiko keselamatan.
Karena itu, standar keamanan menjadi sangat penting.
Robot Harus Belajar Seperti Manusia
Menariknya, pemimpin Agile Robots menilai robot tetap membutuhkan proses pembelajaran.
Chen mengatakan tidak realistis mengharapkan robot langsung memahami seluruh pekerjaan pabrik hanya karena mempunyai AI canggih. Bahkan manusia membutuhkan pelatihan dari pekerja yang telah berpengalaman selama bertahun-tahun.
Hal serupa berlaku pada robot.
Pengetahuan mengenai proses kerja perlu diterjemahkan menjadi data dan pengalaman yang dapat dipelajari sistem AI.
Dengan demikian, perkembangan robot tidak hanya bergantung pada perangkat keras atau model AI.
Data dari dunia nyata juga menjadi aset penting.
Pekerjaan Manusia Ikut Menjadi Perhatian
Semakin luasnya penggunaan robot humanoid tentu menimbulkan pertanyaan mengenai pekerjaan.
Jika robot mampu melakukan pekerjaan rutin, beberapa tugas manusia dapat mengalami otomatisasi.
Namun, perkembangan teknologi biasanya juga menciptakan kebutuhan pekerjaan baru.
Industri robot membutuhkan teknisi, pengembang AI, operator, ahli keselamatan, insinyur perangkat keras dan berbagai profesi lainnya.
Perubahan terbesar kemungkinan terjadi pada jenis pekerjaan yang dilakukan manusia.
Tugas rutin dapat semakin banyak ditangani mesin, sementara manusia lebih berfokus pada pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, komunikasi dan pengambilan keputusan kompleks.
Hong Kong Jadi Gambaran Masa Depan Ritel
Tiga toko robot di Hong Kong memberikan gambaran kecil mengenai kemungkinan masa depan tersebut.
Teknologinya memang belum sempurna.
Robot masih dapat mengalami kesulitan ketika menghadapi kejadian yang tidak diperkirakan.
Namun, fakta bahwa robot humanoid sudah mulai digunakan dalam lingkungan ritel nyata menunjukkan perkembangan industri telah bergerak melampaui tahap konsep.
Perusahaan kini dapat mengumpulkan pengalaman dari interaksi langsung dengan pelanggan.
Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan robot generasi berikutnya.
Robot Humanoid Semakin Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari
Perkembangan di Hong Kong memperlihatkan bahwa robot humanoid perlahan bergerak dari laboratorium menuju kehidupan sehari-hari.
Setelah sebelumnya banyak digunakan dalam manufaktur dan demonstrasi teknologi, robot kini mulai diuji untuk berinteraksi langsung dengan konsumen.
Tiga convenience store Galbot menjadi salah satu contoh terbaru bagaimana AI dan robotika mulai mengubah konsep pelayanan ritel.
Masih banyak tantangan yang harus diselesaikan, terutama kemampuan menghadapi situasi tak terduga, keselamatan dan biaya.
Namun, jika kemampuan AI dan perangkat keras terus meningkat, pemandangan robot yang melayani konsumen mungkin tidak lagi terasa futuristis dalam beberapa tahun mendatang.

















































































































