Gunung es Greenland berukuran sangat besar menjadi sorotan setelah terlepas dari Petermann Glacier di kawasan Arktik. Bongkahan es tersebut memiliki luas lebih dari 76 kilometer persegi, membuat ukurannya sebanding dengan sebuah wilayah perkotaan kecil.
Peristiwa itu sebenarnya sudah cukup spektakuler. Namun perjalanan gunung es tersebut menjadi semakin menarik ketika bongkahan raksasa itu bergerak dan kemudian menghantam Joe Island.
Alih-alih langsung pecah berkeping-keping akibat benturan, gunung es tersebut mampu bertahan.
Gunung Es Greenland Lepas pada Agustus 2026
Petermann Glacier terletak di Greenland bagian utara dan merupakan salah satu gletser besar yang berhubungan langsung dengan laut.
Pada Agustus 2026, bagian depan gletser mengalami peristiwa calving, yaitu proses ketika bongkahan es terlepas dari ujung gletser dan menjadi gunung es yang mengapung.
Bongkahan yang terbentuk kali ini mempunyai luas lebih dari 76 km². ScienceDaily melaporkan peristiwa tersebut sebagai pelepasan es terbesar dari Petermann Glacier sejak 2020.
Ukuran luar biasa itu membuat pergerakannya dapat diamati menggunakan penginderaan jauh dan citra satelit.
Kemudian Bergerak Menuju Joe Island
Setelah terpisah dari gletser, gunung es tidak otomatis berhenti di tempat.
Arus laut, angin dan kondisi es di sekitarnya dapat menggerakkan bongkahan besar melintasi perairan Arktik.
Dalam perjalanan tersebut, gunung es Greenland akhirnya bergerak menuju Joe Island.
Benturan pun terjadi.
Untuk bongkahan es dengan luas puluhan kilometer persegi, tabrakan dengan daratan menghasilkan tekanan mekanis yang sangat besar.
Namun hasilnya tidak sepenuhnya seperti yang mungkin dibayangkan.
Gunung Es Raksasa Itu Tetap Bertahan
Gunung es tersebut tidak langsung pecah setelah menghantam Joe Island.
Kemampuannya bertahan memberikan kesempatan menarik bagi ilmuwan untuk mempelajari bagaimana bongkahan es raksasa merespons benturan dengan daratan.
Gunung es memang terlihat kokoh dari kejauhan, tetapi sebenarnya mempunyai struktur kompleks.
Di dalamnya dapat terdapat retakan, lapisan es dengan karakter berbeda serta bagian-bagian yang telah mengalami tekanan selama bertahun-tahun.
Benturan besar dapat memperlebar retakan tersebut tanpa selalu menyebabkan seluruh struktur langsung runtuh.
Ukurannya Lebih dari 76 Kilometer Persegi
Angka 76 km² sulit dibayangkan jika hanya dilihat sebagai statistik.
Jika bongkahan tersebut berbentuk persegi sempurna, setiap sisinya akan memiliki panjang sekitar 8,7 kilometer.
Tentu bentuk gunung es sebenarnya tidak beraturan.
Namun perbandingan tersebut memberikan gambaran mengenai betapa besarnya bongkahan yang terlepas dari Greenland.
Dan yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian struktur.
Sebagian besar volume gunung es berada di bawah permukaan laut.
Kenapa Gunung Es Bisa Mengapung?
Es memiliki massa jenis lebih rendah dibandingkan air laut.
Karena itulah bongkahan es raksasa dapat mengapung meskipun beratnya luar biasa.
Prinsip yang sama melahirkan ungkapan terkenal mengenai “puncak gunung es”.
Bagian yang terlihat di atas permukaan hanya mewakili sebagian kecil dari keseluruhan volumenya.
Karena banyak bagian tersembunyi di bawah air, bentuk bawah gunung es juga memengaruhi bagaimana ia bergerak dan bereaksi ketika bertemu dasar laut atau daratan.
Petermann Glacier Sudah Lama Dipantau
Petermann Glacier bukan lokasi yang asing bagi ilmuwan iklim.
Gletser besar tersebut telah lama dipantau karena perubahan pada bagian depan dan ice shelf-nya dapat memberikan informasi mengenai dinamika es Greenland.
Peristiwa calving sendiri merupakan proses alami dalam kehidupan gletser yang berakhir di laut.
Artinya, satu peristiwa pelepasan gunung es tidak dapat langsung dianggap sebagai bukti tunggal perubahan iklim.
Ilmuwan perlu melihat tren jangka panjang, perubahan suhu, ketebalan es, kecepatan aliran gletser dan berbagai faktor lainnya untuk memahami penyebab perubahan secara keseluruhan.
Satelit Membantu Mengikuti Perjalanannya
Memantau objek seluas puluhan kilometer persegi di wilayah Arktik tentu tidak mudah jika hanya mengandalkan observasi langsung.
Karena itu, satelit memainkan peran besar.
Citra dari orbit memungkinkan peneliti membandingkan posisi dan bentuk gunung es dari waktu ke waktu.
Dengan metode tersebut, perubahan kecil pada tepi bongkahan dapat terlihat.
Ilmuwan juga dapat mengetahui apakah gunung es mulai retak, berputar, bergerak mengikuti arus atau kehilangan bagian tertentu setelah benturan.
Benturan Tidak Selalu Langsung Menghancurkan Gunung Es
Gunung es bukan benda yang sepenuhnya rapuh.
Bongkahan besar dapat mempunyai ketebalan dan massa luar biasa sehingga mampu menyerap sebagian energi benturan.
Namun bukan berarti tidak terjadi kerusakan internal.
Retakan yang terbentuk akibat benturan dapat memengaruhi apa yang terjadi beberapa hari atau minggu kemudian.
Gelombang, perubahan suhu dan tekanan tambahan dapat memperbesar retakan sampai akhirnya bagian tertentu terpisah.
Karena itu, kondisi gunung es setelah tabrakan menjadi menarik untuk terus diamati.
Laut Arktik Terus Berubah
Perjalanan gunung es seperti ini juga menunjukkan bahwa kawasan Arktik merupakan lingkungan yang sangat dinamis.
Gletser terus mengalir menuju laut. Es laut tumbuh dan menyusut mengikuti musim, sementara gunung es bergerak mengikuti kombinasi arus dan angin.
Perubahan kecil pada satu bagian sistem dapat memengaruhi perjalanan bongkahan es berukuran sangat besar.
Itulah alasan pengamatan jangka panjang menjadi penting.
Ilmuwan tidak hanya tertarik pada satu gunung es, tetapi juga bagaimana pola pelepasan es berubah dari tahun ke tahun.
Gunung Es Bisa Menjadi Laboratorium Alami
Peristiwa tabrakan dengan Joe Island memberi peneliti semacam eksperimen alam.
Ilmuwan dapat melihat struktur gunung es sebelum dan setelah mengalami tekanan besar.
Data tersebut dapat membantu meningkatkan pemahaman mengenai proses fragmentasi es.
Pengetahuan semacam ini penting dalam pemodelan gletser karena pelepasan dan pecahnya gunung es merupakan bagian dari mekanisme perpindahan massa es dari daratan menuju laut.
Pemandangan Spektakuler dengan Cerita Sains Besar
Secara visual, gunung es raksasa yang bergerak melintasi Arktik dan menghantam sebuah pulau terdengar seperti adegan film.
Namun di balik pemandangan tersebut terdapat proses geologi dan oseanografi yang kompleks.
Gunung es seluas lebih dari 76 km² itu berasal dari Petermann Glacier pada Agustus 2026 dan kemudian menghantam Joe Island tanpa langsung pecah. Peristiwa pelepasannya merupakan yang terbesar di Petermann sejak 2020.
Kini perjalanan bongkahan tersebut memberikan kesempatan bagi ilmuwan untuk memahami bagaimana struktur es raksasa bergerak, bertabrakan dan akhirnya terfragmentasi di lingkungan Arktik.










































































































