StartCemerlang

| Berita Cemerlang Terbaru Hari Ini

AI Makin Besar, Tagihan Energi Ikut Melonjak: Dunia Mulai Khawatir di Balik Ledakan Data Center

0 0
Read Time:2 Minute, 7 Second

Ledakan kecerdasan buatan atau AI terus mendorong pembangunan data center di berbagai negara. Namun, pertumbuhan itu mulai menghadapi masalah baru.

Kebutuhan listrik, biaya infrastruktur, dan risiko keuangan kini ikut menjadi perhatian. 

Data Center Jadi Jantung AI

AI membutuhkan komputer dengan kemampuan sangat besar. Karena itu, perusahaan teknologi berlomba membangun data center.

Gartner memperkirakan belanja AI global mencapai US$2,59 triliun pada 2026. Infrastruktur menjadi bagian terbesar dari belanja tersebut. 

Selain itu, pembangunan data center terus meningkat di Amerika Serikat, Eropa, dan China. EY mencatat nilai proyek yang direncanakan mencapai ratusan miliar dolar di berbagai kawasan. 

Masalah Baru Muncul dari Listrik

Namun, ada tantangan besar di balik pembangunan tersebut.

Data center membutuhkan listrik dalam jumlah sangat besar. Karena itu, kebutuhan energi mulai menjadi faktor penting dalam menentukan lokasi proyek baru.

EY mencatat permintaan listrik data center dapat mendekati 1.000 TWh pada 2030. Kondisi ini berpotensi menekan jaringan listrik di sejumlah negara. 

Akibatnya, perusahaan teknologi mulai mencari sumber energi baru. Pemerintah juga harus menyiapkan jaringan listrik yang lebih kuat.

Asia Mulai Lebih Hati-Hati

Sementara itu, Asia juga mulai menghadapi dampak ledakan data center.

Thailand menjadi salah satu contoh. Pemerintah negara tersebut sempat menangguhkan pembangunan 49 proyek data center. Langkah itu dilakukan ketika pemerintah menyusun aturan baru terkait penggunaan sumber daya dan keselamatan. 

Dengan demikian, investasi AI tidak lagi hanya soal teknologi.

Ketersediaan listrik, air, lahan, dan aturan pemerintah juga menjadi bagian penting.

Investasi AI Tetap Mengalir

Meski ada risiko, investasi AI belum menunjukkan tanda berhenti.

BIS memperkirakan lima perusahaan teknologi terbesar dunia akan menginvestasikan lebih dari US$1 triliun untuk AI pada 2025–2026. Bahkan, investasi AI global berpotensi mencapai US$4 triliun pada 2030. 

Karena itu, banyak negara masih melihat AI sebagai peluang ekonomi besar.

AI juga dapat meningkatkan produktivitas. Namun, manfaat tersebut tidak otomatis muncul di semua sektor.

Dunia Mulai Menghitung Untung dan Risiko

Di sisi lain, besarnya investasi membuat sejumlah ekonom mulai waspada.

BIS memperingatkan bahwa sebagian pembiayaan AI semakin bergantung pada utang dan kredit swasta. Jika keuntungan perusahaan tidak sesuai harapan, kondisi tersebut bisa menimbulkan tekanan keuangan. 

Selain itu, AI mulai mengubah kebutuhan tenaga kerja. Pekerjaan di bidang layanan pelanggan, pemrograman, dan administrasi mulai terdampak otomatisasi. Karena itu, kemampuan baru dan pelatihan pekerja menjadi semakin penting. 

AI Memasuki Babak Baru

Kini, dunia tidak hanya bertanya siapa yang memiliki AI paling canggih.

Pertanyaan berikutnya adalah siapa yang mampu membangun infrastruktur, energi, tenaga kerja, dan aturan untuk mendukungnya.

Dengan demikian, persaingan AI kemungkinan akan semakin luas.

Bukan hanya perang teknologi.

Ini juga menjadi persaingan energi, investasi, pekerjaan, dan kekuatan ekonomi dunia.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %